Selasa, 26 Mei 2009

MENANAMKAN SIKAP TAUHID SEJAK DINI PADA ANAK

PANDAI MENSYUKURI NIMAT
Oleh :Munirul Ihwan[1]

A. Pendahuluan
Bersyukur kepada Allah, bersyukur sepanjang waktu, setiap langkahku, seluruh hidupku semoga diberkahi Allah, setiap nafasku seluruh hidupku semoga diberkahi Allah. Alhamdulillah wasyukurillah, bersyukur padamu ya Allah, Kau jadikan kami saudara, indahnya langkah bersamaan. Alhamdulillah wasyukurillah, bersyukur padamu ya Allah, kau jadikan kami saudara, hilanglah semua perbedaan. Demikianlah setidaknya syair-syair lagu yang di dalamnya memuat ungkapan syukur seorang hamba kepada Tuhannya.
Di dalam kehidupan manusia mendapatkan apa yang diinginkan merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan. Kegembiraan dan kebahagiaan sudah pasti akan mewarnai perasaannya. Akan tetapi tidak jarang orang yang tidak mengetahui dari mana asal dari kesenangan itu. Adakah kesenangan itu datang dengan sendirinya begitu saja ? Atau ada yang memberi kesenangan itu kepada manusia?
Di dalam ajaran agama Islam segala sesuatu kenikmatan atau kesenangan itu adalah anugerah yang datangnya dari Allah SWT. Allah menganugerahkan berbagai macam kesenangan agar manusia mempunyai kesempatan untuk beribadah kepada Allah dengan cara mensyukuri kesenangaan atau nikmat yang telah diterimanya itu. Allah SWT bukannya lantas menjadi lemah atau berkurang kemaha besaran-Nya apabila sekalipun semua manusia tidak bersyukur kepada-Nya. Akan tetapi peluang syukur terhadap nikmat-nikmat Allah yang telah diterima manusia adalah sebuah keberuntungan bagi manusia itu sendiri. Karena mengapa, syukur adalah ibadah, dan ibadah pastilah akan mendapatkan balasan dari Allah berupa kebaikan-kebaikan yang lain pada dirinya. Sesunggunyalah bahwa Allah tidak pernah mengharapkan balasan apapun atas semua pemberian-Nya itu. Dia hanya meminta kita bersyukur.[2]
Banyak sekali tanda-tanda kebesaran dan kemurahan Allah yang apabila kita memikirkannya pastilah akan menyebabkan kita akan senantiasa bersyukur kepada-Nya kapan dan di manapun berada. Marilah kita sejenak hanyutkan pikiran kita mengikuti aliran pikiran Iman al Ghazali yang mengungkapkan begitu banyak bukti-bukti kemurahan Allah terhadap makhluk-Nya. [3]
Betapa sungguh luar biasa Allah menciptakan matahari untuk alam ini terutama untuk kebutuhan manusia. Kita hanya cuba pikirkan dan bayangkan bagaimanalah seandainya Allah tidak menciptakan matahari, subhaanallah. Lalu Allah ciptakan gunung-gunung agar dari sana dapat dialirkan air sebagai kebutuhan manusia dan makhluk lainnya. Subhanaallah AIR, Allah Maha Rahman dengan menciptakan air untuk kebutuhan hidup makhluk-Nya. Cubalah dipikirkan seandaiya Allah menghentikan rizki air itu barang sehari saja, masyaallah. [4]
Dari air lalu Allah menganugerahkan kepada manusia tumbuh-tumbuhan yang terntu saja sangat banyak manfaatnya. Berapa banyak nikmat yang diperoleh dari adanya tumbuhan yang Allah ciptakan, jawabnya tidak bisa dihitung. Karena semua dimensi tumbuhan baik dari segi fisik dan kehadirannya merupakan kenikmatan yang tak ternilai harganya.[5]
Allah menciptakan manusia dengan dua jenis yang berbeda adalah sebuah karunia juga yang sudah sepantasnya kita sangat syukuri adanya. Karena dengan dua jenis laki-laki dan perempuan maka Allah ciptakan kasih sayang dan cinta kasih dalam kehidupan ini. Lalu dari padanya kita dapat beribadah dan sekaligus mengambil bagian kesenangan dan kenikmatan berkasih dan bercinta. Lalu Allah ciptakan anak yang mirip orang tuanya wajah dan wataknya. Subhanallah .[6]
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah nikmat atau anugerah kesehatan yang tentu saja didambakan oleh setiap manusia dalam hidupnya. Artinya tidak ada seorangpun yang menginginkan dirinya jatuh sakit dan tidak menginginkan kesembuhann (sehat). Dengan sehat kita bisa lapar, ngantuk, nafsu dan sebagainya yang itu juga adalah bagian dari nikmat Allah yang jika kita ingin menghitung-hitung nikmat itu niscaya tidak mungkin terhitung.[7]
Intinya adalah bahwa janganlah kita menghitung nikmat Allah untuk mengatakan bahwa masih kurnag nikmat Allah itu, tapi hitunglah agar kita tahu betapa kita miskin dibanding ke-Maha Murahan Allah kepada manusia. Betapa tidak; angin, hujan, siang, malam dan segala sesuatu yang di langit dan di bumi hanyalah untuk kesejahteraan manusia dan makhluk lainnya. Lantas alasan apalagi sehingga kita masih juga tidak segera bersyukur kepad Allah? Astaghfirullahal adzim.
Beruntunglah orang yang ketika mendapat nikmat dari Allah ia bersegera untuk bersyukur atas segala nikmat-nikmat tersebut. Karena ia akan mendapat nikmat sekaligus pahala yang meyertainya. Dan sebaliknya orang yang setelah mendapat nikmat ia tidak bersyukur atau bahkan kufur (ingkar) terhadap nikmat-nikmat tersebut, maka celakalah baginya, karena tiada yang dapat melebihi betapa pedih azab Allah SWT.

B. Pembahasan
1. Nikmat dan Syukur
a. Nikmat
Nikmat adalah segala sesuatu yang mengakibatkan jiwa menjadi berkenan terhadap sesutu tersebut atau segala sesuatu yang diinginkan oleh manusia untuk dapat memilikinya. Bisa saja nikmat itu berupa kesenangan (sesuatu yang menyenangkan) yang menggembirakan dirinya. Atau bahkan sesuatu yang menyusahkan sekalipun asalkan memang keadaan itu yang diminta oleh seorang hamba kepada Allah. Pernyataan pertama tentang berupa kesenangan merupakan suatu hal yang lazim. Akan tetapi nikmat bentuk kedua yaitu berupa kesusahan sungguhpun seperti tidak lazim bagi orang awam akan tetapi bagi orang yang tingkat keimanan mereka sangat tinggi (ahli sufi misalnya) bukan tidak mungkin mereka memohon sesuatu yang secara fisik menyusahkan tapi demi mendapatkan ridha Allah mereka justru memohon yang menyusahkan mereka. Misalnya meraka memohon untuk dijadikan orang miskin saja (dan mereka senang menjadi orag miskin) nah kalau Allah mengabulkan mereka menjadi miskin maka itu adalah nikmat bagi mereka. Sementara banyak orang ingin menjadi orang kaya pun tidak keliru. Kalau Allah mengabulkn permohonan mereka maka itulah nikmat bagi mereka. Ininya nikmat adalah segala sesuatu yang telah Allah berikan kepada kita sebagai hambanya baik yang kita minta maupun yang tidak kita minta.
Setidaknya ada tiga macam nikmat menurut IBNU QAYYIM yaitu ; a) nikmat yang telah di dapat oleh seorang hamba dan ia mengetahuinya, b) nikmat yang ditunggu dan diharakan, c) nikmat yang telah diterima oleh seorang hamba, namun ia tidak mengetahui dan tidak menyadarinya.[8]
Masih menurut Ibnu qayyim bahwa bil Allah hendak menyempurnakan nikmat-Nya maka Dia memperkenalkan (memberitahuan) nikmat yang ada kepada hamba-Nya dan memberi kepadanya –karena syukur yang dilakukannya- satu tali pengikat sehingga nikmat tersebut tidak dipakai dalam kemaksiatan, tetapi digunakan dalam ketaatn atau amal yang dapat mendatangkan nikmkat yang ia tunggu-tunggu. Dia juga menganugerahi petunjuk tentang cara memutus jalan menggunakan nikmat dalam kemaksiatan, sehingga ia terhindar darinya. Allah SWT juga akan memperkenalkan pada hamba-Nya nikmat-nikmat yang ada pada hamba yang tidak ia kenal dan tidak ia sadari tersebut.[9]

b. Syukur
Perintah bersyukur dikemukakan, antara lain dalam QS. Ibrahim ayat 7 “ Sesungguhnya jika kamu bersyukur , pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” . Berdasarkan firman Allah ini, maka sebagai hamba yang baik, haruslah menyukuri nikmat yang ada. Karena, sesuai dengan janji Allah, nikmat pasti akan ditambah, tetapi kalau hanya mengeluh, merasa kurang, maka inilah yang dinamakan kufur. Artinya melupakan nikmat yang ada dan bahkan tidak mengenal terima kasih. Sesuai dengan ayat dia atas bahwa orang yang demikian itu akan mendapatkan azab dari Allah SWT. Diantara azab atau siksa yang sudah bisa dirasakan di dunia adalah hancurnya jiwa lantaran kehausan dan tidak pernah merasa puas. Orang yang berprilaku kufur mereka telah berbuat dosa, sedangkan Rasulullah pernah bersabda “ Sesungguhnya seorang hamba Allah akan dijauhkan Tuhan daripadanya rezki karena dosa yang diperbuatnya” . Maksud sindiran ini adalah bahwa meskipun seseorang tampak kaya –ditambah lagi kalau harta itu tidak halal- tapi jiwanya akan senantiasa kering atau miskin dikarenakan tidak adanya rasa terima kasih.[10]
Hamka mengemukakan sebuah hadits nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Anas Bin Malik tentang perlunya berterimakasih, pernah datang kepada Nabi SAW. Seorang peminta-minta, lalu diberi oleh Nabi sebutir kurma. Rupanya si pengemis tidak menerima dengan senang hati. Kemudian datang lagi seorang pengemis lainnya dan diberi oleh Nabi sebutir kurma sama dengan pengemis pertama. Pengemis yang terakhir ini menerima dengan seraya berkata “ Sebutir kurma dari Nabi SAW sendiri, “Subhana Allah” (tanda syukur). Melihat demikian cara penerimaan pengemis ini, Rasulullah bersabda kepada pembantunya “ kau pergi kepada Ummu Salamah supaya dia berikan kepada orang ini 40 dirham”.
Sebaliknya orang yang bersifat kufur adalah orang yang idak pernah merasa puas, yang selalu menghitung segala sesuatu dari kekurangannya saja. Maka dia akan suram jiwanya serta menjadi orang merugi karena akan mendapat azab Allah baik di dunia maupun di akhirat.
Sementara al Hikam mengatakan bahwa :
من لم يشكر النعم فقد تعرص لزوالها ومن شكرها فقد قبدها بعقالها
Mensyukuri nikmat adalah cara termudah untuk mempertahankan nikmat itu. Jika orang tidak mau bersyukur berarti telah lega rela melepaskan nikmat itu darinya. Bahkan dengan menyukuri nikmat itu merupakan bukti ta’at kita kepada perintah Allah. Menyukuri nikmat bisa dengan hati, dengan cara meyakini bahwa seluruh nikmat yang dia rasakan tiada lain kecuali dari Allah SWT adanya. Allah berfirman :
وما بكم من نعمة فمن الله ( dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah lah adanya). Syukur juga bisa dilakukan dengan lisan. Yaitu dengan menceritakan nikmat Allah yang telah diterima. Sebagaimana firman Allah ث واما بنعمة ربك فحد (Sedangkan dengan nikmat yang kamu terima , maka ceritakanlah). Serta bisa pula dengan anggota badan yang lain. Yaitu dengan cara membelanjakan pemberian Allah untuk melaksanakan perintah (zakat, sadaqah misalnya) dan menolak untuk mengerjakan untuk hal-hal yang tidak diridhoi Allah. [11]
Sementara Ibnu Qayyim mengungkapkan dalam pesan-pesan spiritualnya bahwa bangunan ad Din berdiri atas dua pondasi; yaitu zikir dan syukur. Sehubungan dengan hal ini ada firman allah :
فاذكروني اذكلركم وشكرولي ولا تكفرون
“ Karena itu , berzikirlah/ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku, dang janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku” (Al baqarah 1520.
Yang dimaksud dengan zikir adalah menyebut-Nya dengan mulut kita, mengingat dalam hati meliputi asma-asma-Nya, sifat-sifat-Nya, juga terhadap perintah dan larangan-Nya. Hal ini megnharuskan seorang hamba untuk mengenal dan mengimani Allah, memuji-Nya atas aneka ragam nikmat dan karunia-Nya terhadap manusia. Sedangkan memuji Allah atas segala nikmat ini adalah merupakan bentuk tanda syukur terhadap Allah SWT dalam kerangka mentaati-Nya dan taqarrub serta beribadah kepada-Nya. Dengan berbagai amal yang disukai oleh Allah baik lahir maupun bathin.[12]
Quraisy Shihab dalam Lentera Hati mengungkapkan bahwa al Qur’an telah melukiskan betaba akibat kekufuran terhadap nikmat di dalam suatu peristiwa yang menimpa suatu negeri yang tadinya aman sejahtera dan rezkinya melimpah ruah di segenap penjuru tetapi mereka kufur. Lalu Allah menjadikan mereka merasakan kelaparan dan ketakutan disebabkan oleh ulah mereka sendiri (lihat QS 16:112)[13]
Cara menyuskuri nikmat allah SWT menurut kitab al Hikam ada tiga macam yaitu :
1. Syukur qalbi
Yakni syukur hati. Maknanya ialah hati kita mngetahui, mengakui bahkan meyakini, bahwa sekalian nikmat apa pun saja sifatnya, bagaimanapun bentuknya dan erapapun hitungannya dan ukurannya, adlah karunia dari Allah SWT. Dari Dia-lah datangnya nikmat-nikmat itu dan Dia-lah yang menciptakan sekaliannya. Itulah pengertian dari firman Allah yang artinya “ Dan nikmat yang ada pada kamu itu datannya dari Allah , kemudian apabila kamu ditimpa bahaya, maka kepada-Nyalah kamu minta pertolongan.’ (An-Nahl: 53)
2. Syukur Lisani
Syukur lisani adalah mensyukuri nimat Allah ddengan cara megucapkan puji-pujian kepada Allah menyebut asma-asma-Nya, termasuk juga menyukuri nikmat lisani adalah menyebut-nyebut nikmat yang datang dari Allah tersebut. Hal ini sesuai dengan firman Allah “ Dan karunia Tuhan engkau, hendaklah siarkan “(Adh-Duha : 11). Dalam hal ini umar bin Khattab berkata “ sebut-sebutlah olehmu nikmat-nikmat Allah, karena bahwasannya menyebut-menyebut nikmat allah itu berart bersyukur kepada-Nya). Selain dari bahwa bersyukur dengan lissan adalah berterima kasih atau syukur pada jalan-jalan di mana dengannya kita memperoleh atau sampai nikmat kepada kita.
Dalam Surat An Nashr Nabi Muhamma diperintahkan ntuk bertasbih dan memuji Tuhannya. Memuji ztuhan adalah bentuk Kesyukuran yang paling penting, yang kalimat lengkapnya membentuk hamdalah, yaitu ucapan Alhamdulillah (alhamdulillahi : segala puji bagi Alah) yang kemudian kalimat itu disebut dengan tahmid [14]
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bersyukur dengan lisan adalah sebagaimana yang dperintahkan oleh Allah dalam QS An Nashr kepada Nabi Muhammad yaitu dengan mengucapkan lafadz hamdalah yang artinya segala puji-pujian hanyalah milik Allah SWT. Pada waktu itu Rasulullah mendapat kesenangan karena orang berbondong-bondong masuk Islam mengikuti dakwahnya. Intinya banyak mengucapkan alhamdulillah dengan ikhlas adalah cara bersyukur dengan lisan. Dan ini tentu cara bersykur yang paling sederhana dan ringan. Oleh karena itu kalao cara dengan lisan ini saja tidak dapat ditunaikan pada saat mendapat nikmat sudah dipastikan yang lebih berat dari itu akan sulit melakukannya (maksudnya cara bersyukur yang berikut ini )
3. Syukur Al Jawarih
Yakni syukur anggota bdan atau dapat dikatakan dengan syukut secara fisik kepada Allah. Realisasinya adalah dengan mengarahkan mata, telinga, kaki, tangan dan anggota badan lainnya terhadap segala sesuatu yang diridhai oleh Allah SWT. Mata untuk melihat yang baik menurut Allah. Telinga untuk mendengar yang baik menurut Allah. Demikian juga tangan kaki dan lain sebagainya. Kita ketahui bahwa rasulullah SAW melakukan ibadah sholat sampai-sampai bengkak kedua belah kakinya. Alasanya adalah karena rasulullah ingin bersyukur kepada Allah SWT, sekalipun beliau tidak memiliki dosa karena telah dijamin oleh Allah. Sebuah syair berbunyi “ Syukurku tidak cukup dengan membalas pemberianmu, dan tetap aku berusaha sungguh menjalaninya, berfaedahlah kepadamu pemberian yang putih bersih daripada –ku yaitu tiga; dua tanganku, lidahku, dan hatiku yang terselubung [15]
Al Ghazali memberikan pengertian syukur yang berasal dari kata as Syakur adalah bahwa Allah yang maha membalas syukur terhadap hamba-hamba-Nya, memberi balasan pahala yang berlipat ganda bagi pelaku kebajikan keta’atan yang sedikit dan memberikan kebahagiaan yang tak terbatas di akhirat. sebagaiman firman-Nya yang artinya “ di dalam syurga yang tinggi, buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan) “makanlah dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu. Dia yang memberikan pahala berlipat ganda bagi satu perbuatan baik yaitu perbuatan bersyukur atas perbuatan itu. Siapapun yang menghargai seseorang yang berbuat satu kebajikan juga dinamakan syukur.
Allah SWT memuji perbuatan hamba-hamba-Nya. Jika manusia yang diberi sesuatu kemudian beterima kasih kemudian dia memuji Allah SWT maka berarti ia telah bersyukur. Demikian pula si pemberi yang memuji si penerima, dia lebih pantas disebut bersyukur. Juga apabila seseorang seseorang bersyukur kepada orang lain dengan cara memujinya atas perbuatan baiknya tersebut, lalu pada saat yang lain ia memberikan imbalan kepadanya melebihi pemberian yang diterimanya, ia pun telah melakukan perbuatan terpuji yaitu bersyukur.[16]
Quraisy Shihab dalam bukunya juga mengatakan bahwa ; syukur manusia kepada Allah dimulai dengan menyadari dari lubuknya hatinya yang terdalam, betapa besar nikmat dan anugerah-Nya disertai ketundukan dan kekaguman yang melahirkan rasa cinta kepada-Nya dan dorongan untuk bersyukur dengan lidah dan perbuatan.
Memang manusia tidak dapat melakukan syukur dengan sempurna. Bagaimana tidak demikian, pujian manusia kepada Allah – betatapun ia usahakan- tidak akan pernah mampu menyamai betapa besar limpahan karunia-Nya ; subhanaka lanuhshi tsanan ‘alaika anta kama atsnaita ‘ ala nafsika” ( maha suci engkau ya allah , kami idak mampu memujimu, ujian terhadapmu adalah sebagaimana pujianmu terhadap dirimu) itulah ucapan yang diajarkan oleh Rasulullah kepada kita semua.[17]
Manusia diperintahkan meneladani Tuhan sepanjang kemampuanna dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang ada. Bukankah Allah Maha Kaya, Mha Kuasa dan Maha Bersyukur. Seseorang yang puas dengan perolehan (rezki) nya, sedangkan masih ada tersisa baginya kemampuan utnuk menambah kemanfaatan diri atau makhluk lain pada hakikatnya tidak menghayati ajaran agama. Dalam hal ini sesuailah konsep qana’ah dalam literatur agam islam meskipun pemahamanya mesti dirubah bukan hanya sekedar puas dengan apa yang dimiliki begitu saja, akan tetapi qana’ah lebih dipahami sebagai hasil akhir setelah melalui lima proses yaitu ; keinginan meraih sesuatu, usaha yang maksimal, keberhasilan dalam usaha, menyerahkan (membagi/sadaqah) dengan suka cita apa yang telah diperolehnya kepada yang membutuhkan,dan telah merasa puas dengan apa yang telah ia miliki sebelumnya.[18]
Setiap orang sangat memerlukan Allah dalam setiap gerak kehidupannya. Dari udara untuk bernafas hingga makanan yang ia makan, dari kemampuannya untuk menggunakan tangannya hingga kemampuan berbicara, dari perasaan aman hingga perasaan bahagia, seseorang benar-benar sangat memerlukan apa yang telah diciptakan oleh Allah dan apa yang dikaruniakan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan orang tidak menyadari kelemahan mereka dan tidak menyadari bahwa mereka sangat memerlukan Allah. Mereka menganggap bahwa segala sesuatunya terjadi dengan sendirinya atau mereka menganggap bahwa segala sesuatu yang mereka peroleh adalah karena hasil jerih payah mereka sendiri. Anggapan ini merupakan kesalahan yang sangat fatal dan benar-benar tidak mensyukuri nikmat Allah. Anehnya, orang-orang yang telah menyatakan rasa terima kasihnya kepada seseorang karena telah memberi sesuatu yang remeh kepadanya, mereka menghabiskan hidupnya dengan mengabaikan nikmat Allah yang tidak terhitung banyaknya di sepanjang hidupnya. Bagaimanapun, nikmat yang diberikan Allah kepada seseorang sangatlah besar sehingga tak seorang pun yang dapat menghitungnya. Allah menceritakan kenyataan ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. an-Nahl: 18).
Meskipun kenyataannya demikian, kebanyakan manusia tidak mampu mensyukuri kenikmatan yang telah mereka terima. Adapun penyebabnya diceritakan dalam al-Qur’an: Setan, yang berjanji akan menyesatkan manusia dari jalan Allah, berkata bahwa tujuan utamanya adalah untuk menjadikan manusia tidak bersyukur kepada Allah. Pernyataan setan yang mendurhakai Allah ini menegaskan pentingnya bersyukur kepada Allah:
“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. Allah berfirman, ‘Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya’.” (Q.s. al-A’raf: 17-8).

Dalam pada itu, orang-orang yang beriman karena menyadari kelemahan mereka, di hadapan Allah mereka memanjatkan syukur dengan rendah diri atas setiap nikmat yang diterima. Bukan hanya kekayaan dan harta benda yang disyukuri oleh orang-orang yang beriman. Karena orang-orang yang beriman mengetahui bahwa Allah adalah Pemilik segala sesuatu, mereka juga bersyukur atas kesehatan, keindahan, ilmu, hikmah, kepahaman, wawasan, dan kekuatan yang dikaruniakan kepada mereka, dan mereka mencintai keimanan dan membenci kekufuran. Mereka bersyukur karena telah dibimbing dalam kebenaran dan dimasukkan dalam golongan orang-orang beriman. Pemandangan yang indah, urusan yang mudah, keinginan yang tercapai, berita-berita yang menggembirakan, perbuatan yang terpuji, dan nikmat-nikmat lainnya, semua ini menjadikan orang-orang beriman berpaling kepada Allah, bersyukur kepada-Nya yang telah menunjukkan rahmat dan kasih sayang-Nya.
Sebagai balasan atas kesyukurannya, sebuah pahala menunggu orang-orang yang beriman. Ini merupakan rahasia lain yang dinyatakan dalam al-Qur’an; Allah menambah nikmat-Nya kepada orang-orang yang bersyukur. Misalnya, bahkan Allah memberikan kesehatan dan kekuatan yang lebih banyak lagi kepada orang-orang yang bersyukur kepada Allah atas kesehatan dan kekuatan yang mereka miliki. Bahkan Allah mengaruniakan ilmu dan kekayaan yang lebih banyak kepada orang-orang yang mensyukuri ilmu dan kekayaan tersebut. Hal ini karena mereka adalah orang-orang yang ikhlas yang merasa puas dengan apa yang diberikan Allah dan mereka ridha dengan karunia tersebut, dan mereka menjadikan Allah sebagai pelindung mereka. Allah menceritakan rahasia ini dalam al-Qur’an sebagai berikut:
“Dan ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (Q.s. Ibrahim: 7)
Mensyukuri nikmat juga menunjukkan tanda kedekatan dan kecintaan seseorang kepada Allah. Orang-orang yang bersyukur memiliki kesadaran dan kemampuan untuk melihat keindahan dan kenikmatan yang dikaruniakan Allah. Rasulullah saw. juga menyebutkan masalah ini, beliau saw. bersabda:
“Jika Allah memberikan harta kepadamu, maka akan tampak kegembiraan pada dirimu dengan nikmat dan karunia Allah itu.
Dalam pada itu, seorang kafir atau orang yang tidak mensyukuri nikmat hanya akan melihat cacat dan kekurangan, bahkan pada lingkungan yang sangat indah, sehingga ia akan merasa tidak berbahagia dan tidak puas, maka Allah menjadikan orang-orang seperti ini hanya menjumpai berbagai peristiwa dan pemandangan yang tidak menyenangkan. Akan tetapi Allah menampakkan lebih banyak nikmat dan karunia-Nya kepada orang-orang yang ikhlas dan memiliki hati nurani.
Bahwa Allah menambah kenikmatan kepada orang-orang yang bersyukur, ini juga merupakan salah satu rahasia dari al-Qur’an. Bagaimanapun harus kita camkan dalam hati bahwa keikhlasan merupakan prasyarat agar dapat mensyukuri nikmat. Jika seseorang menunjukkan rasa syukurnya tanpa berpaling dengan ikhlas kepada Allah dan tanpa menghayati rahmat dan kasih sayang Allah yang tiada batas, tetapi rasa syukurnya itu hanya untuk menarik perhatian orang, tentu saja ini merupakan ketidakikhlasan yang parah. Allah mengetahui apa yang tersimpan dalam hati dan mengetahui ketidakikhlasannya tersebut. Orang-orang yang memiliki niat yang tidak ikhlas bisa saja menyembunyikan apa yang tersimpan dalam hati dari orang lain. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya dari Allah. Orang-orang seperti itu bisa saja mensyukuri nikmat ketika tidak menghadapi penderitaan. Tetapi pada saat-saat berada dalam kesulitan, mungkin mereka akan mengingkari nikmat.
Perlu diperhatikan, bahwa orang-orang mukmin sejati tetap bersyukur kepada Allah sekalipun mereka berada dalam keadaan yang sangat sulit. Seseorang yang melihat dari luar mungkin melihat berkurangnya nikmat pada diri orang-orang yang beriman. Padahal, orang-orang beriman yang mampu melihat sisi-sisi kebaikan dalam setiap peristiwa dan keadaan juga mampu melihat kebaikan dalam penderitaan tersebut. Misalnya, Allah menyatakan bahwa Dia akan menguji manusia dengan rasa takut, lapar, kehilangan harta dan jiwa. Dalam keadaan seperti itu, orang-orang beriman tetap bergembira dan merasa bersyukur, mereka berharap bahwa Allah akan memberi pahala kepada mereka berupa surga sebagai pahala atas sikap mereka yang tetap istiqamah dalam menghadapi ujian tersebut. Mereka mengetahui bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kekuatannya. Sikap istiqamah dan tawakal yang mereka jalani dalam menghadapi penderitaan tersebut akan membuahkan sifat sabar dan syukur dalam diri mereka. Dengan demikian, ciri-ciri orang yang beriman adalah tetap menunjukkan ketaatan dan bertawakal kepada-Nya, dan Allah berjanji akan menambah nikmat kepada hamba-hamba-Nya yang mensyukuri nikmat-Nya, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.
Pada intinya sebagaimana diungkapkan olimam Al Ghazali bahwa seorang hamba bias menjadi orang yang mensyukuri hak seorang hamba yang lain dengan menyanjung kebaikannya atau dengan membalasnya dengan yang lebih banyak dari apa yang diperbuatnya. Itu termasuk sifat terpuji. Coba kita simak sabda Rasulullah : "Siapa yang tidak bersyukur kepada orang maka di tidak bersyukur kepada Allah"[19]
Sedangkan syukurnya manusia kepada Allah sesungguhnya hanyalah kiasan belaka. Sebab jika manusia memuji Allah, maka pujiannya itu sangat tidak memadai. Dan yang terakhir ini sangat penting bahwa sesungghnya keta'atan hamba kepada Allah itu pun nikmat yang tak ternilai harganya. Bahkan syukur itu sendiri adalah nikmat yang lain di balik nikmat yang disyukurinya. Oleh jarena itu bentuk yang terbaik dalammensyukuri nkmat Alah adalah tidak menggunakan nikmat itu untuk bermaksiat kepada Allah melainkan untuk meta'ati –Nya. Dan hanya karena Allah sehingga manusia menjadi hamba yang bersyukur. Subhanallah wal hamduliillah.[20]





B. Penutup
1. Kesimpulan
Dariuaraian di atas dapat diambil suatu kesimpuan bahwa '
a. Allah maha pengasih lagi maha penyayang. Mengasih siapa saja makhluk hidup ini baik yang beriman maupun yang ingkar kepada-Nya. Akan tetapi Allah menyayangi makhluk-Nya yang taat dan patuh kepada perintah dan larangan-Nya saja
b. Allah memberikan nikmat dan anugrah kepada makhluk-Nya tidak dengan tujuan mendapatkan imbalan dari makhluknya. Hanya Allah memerintahkan kepada makhluknya untuk bersyukur kepada-Nya.
c. Orang yang senantiasa bersyukur maka akan terus ditambah nikmat itu oleh Allah, sementara orang yang kufur atau tidak mensyukuri nikmat Allah maka ia akan mendapatkan azab yang pedih dari-Nya.

2. Saran
Demikianlah makalah yang sederhana ini, tentu saja masih banyak kekurangan di sana sini. Untuk itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan di masa-masa yang akan dating. Akhirnya mohon maaf atas segala kekhilafan. Syukuron jaziila.The faulth is mine but the truisme is God.



























DAFTAR PUSTAKA



Al Ghazali, Imam, Keajaiban-keajaiban makhluk Allah, Pustaka Media, Surabaya, 2002

Syukur, Amin, Zikir Menyembuhkan Kankerku, Hikmah Populer, Jakarta, 2007

Zaky al Kaaf Abdullah, Asmaul Husna Perspektif Al Ghazali, Pustaka Setia, Bandung 2002.

Bisri,M. Cholil, Indahnya Tasawuf Al Hikam Ibnu Aththaillah Askandarany, Pustaka Alief, Yogyakarta, 2003

Hawwa, Sa'id, Intisari Ihya' Ulumuddin Al Ghazali : Mensucikan jiwa Konsep Tazkiyatun-nafs, Alih Bahasa Aunur Rafiq Shaleh Tamhid , Lc. Robbani Press, Jakata, 1998

M. Qurais Shihab, Kisah dan hikmah Kehidupan Lentara hati, Mizan, Jakarta, 2007

Muhibbudin Waly, hakikat Hikmah Tauhid dan Tasawuf, Pustaka Nasional PTE LTD, Singapura, 2004.

M. Quraish Sihab, Menyingkap tabir ilahi : asmaul husna dalam perspektif al-qur’an, Lentera hati, Jakarta.2006.

Majid, Nurcholish, Islam Agama Peradaban : Membangn Makna dan Relevansi dalam Sejarah, paramadina, Jakarta, 1995

Nabhani Idris (penyadur), Pesan-pesan Spiritual Ibnu Al Qayyim, Gema Insani Press, Jakarta, 1998.

Sulaiman Al Kumayi, Kearifan Spiritual dari Hamka ke Aa Gym, Pustaka Nuun, Semarang, 2004.

.

[1]Mahasiswa Program Pascasarjana Program Beasiswa Departemen Agama RI 2007 Asal Palembang
[2]Amin Syukur, Zikir Menyembuhkan Kankerku, Hikmah Popular, Jakarta, 2007 hlm. 213
[3]Imam Al Ghazali, Keajaiban-Keajaiban makhluk Allah, Pustaka Media, Surabaya, 2002, hlm. 102-113
[4]Ibid
[5]Ibid
[6]Ibid
[7]Ibid
[8] Nabhani Idris (Penyadur), Pesan-pesan Spiritual Ibnu Al Qayyim, Gema Insani Press, Jakarta, 1998. hlm. 150
[9] Ibid
[10]Sulaiman Al kumayi, Kearifan Spiritual dari Hamka ke Aa Gym, Pustaka Nuun, Semarang, 2004, hlm., 134.
[11]KH.M. Cholil Bisri, Indahnya tasawuf Al Hikam Ibnu Aththaillah Askandarany, Pustaka Alief, Yogyakarta, 2003. hlm. 52
[12] Nabhani Idris (penyadur), Pesan-pesan Spiritual Ibnu Al Qayyim, Gema Insani Press, Jakarta, 1998. hlm. 122-123
[13] M. Qurais Shihab, Kisah dan hikmah Kehidupan Lentara hati, Mizan, Jakarta, 2007
[14] Nurcholish Madjid, Islam Agama Peradaban : Membangun makna dan Relevansi Doktrin Ilam dala Sejarah, Paramadina, Jakarta, 1995, hlm. 196
[15] Muhibbudin Waly, hakikat Hikmah Tauhid dan Tasawuf, Pustaka Nasional PTE LTD, Singapura, 2004. hlm 351-355
[16] Abdullah Zaky al Kaaf, Asmaul Husna Perspektif Al Ghazali, Pustaka Setia, Bandung 2002. hlm., 195
[17]M. Quraish Sihab, Menyingkap tabir ilahi : asmaul husna dalam perspektif al-qur’an, Lentera hati, Jakarta.2006, hlm. 182-183
[18] M. Qurais Sihab, Kisah dan Hikmah KehidupanLentera hati, Mizan, bandung, 2007 hlm. 138-139


[19] Hadits Riwayat Imam Ahmad dan Turmudzi dari Abu Sa'id ra.
[20]Hawwa, Sa'id, Intisari Ihya' Ulumuddin Al Ghazali : Mensucikan jiwa Konsep Tazkiyatun-nafs, Alih Bahasa Aunur Rafiq Shaleh Tamhid , Lc. Robbani Press, Jakata 1998.hlm. 431

Tidak ada komentar:

Posting Komentar